LELAKI AKAR TUNGGANG'
Siapa yang
tak kenal Mbokde Gati, ha? Janda sugeh yang hidupnya kesepian loh, Lur.
Di meja
riasnya yang terbuat dari kayu jati ukir, Mbokde Gati menatap pantulan dirinya.
Di usianya
sekarang, ia masih cantik, seger meger-meger kalau kata pakde mah. Selain kulitnya
terawat, anu ... itu loh, gincu merahnya selalu teroles sempurna. Bikin kepala
puyeng gak sih lihat janda modelan gini.😁
Selain saldo
tabungan Mbokde Gati mendekati ratusan juta, perhiasan, aset tanah, warung
makan, dan lah ... pokoknya sugeh ra umum, Lur.
Andai pakde
dapat istri lagi modelan gini, pakde pasti gak akan susah payah nulis demi
recehan, tetapi ... ah, sudahlah! Menulis
tokohnya saja pakde sudah terhibur kok.😄
Lanjut, Lur!
Baru kenal
tokoh Mbokde Gati? Telat sih kamu ... makanya ikuti pakde sebab akan pakde
ganjar dengan banyak cerita yang menghibur. Domongi kok!
Dulu itu
Mbokde Gati kepincut sama penjaga kuda,
alih-alih penjaga kuda berahi karena Mbokde Gati mencampurkan mantra kamasutra di
nasi bungkus, eh ... malah kudanya yang berahi, dan nyaris juragannya
dirudapaksa sama itu kuda. Pokoknya Mbokde Gati apes! Masih ada di postingan
pakde kok Mbokde Gati. Cek aja. Biar kamu makin dekat dengan tokoh andalan
pakde yang satu ini.
Eh, iya. Cerita
ini sedikit agak panjang karena pakde pakai edisi storytelling. Beda dengan Mbokde
Gati sebelumnya. Santai saja bacanya, gak usah buru-buru. Ceritanya ringan kok,
gak berat, dan yang pasti Insya Allah bisa menghiburmu. (Senyum manis dipaksakan).
😁
Lanjut lagi
kita, Lur!
Eh, bentar!
Pakde ambil headset dulu sebab pakde butuh dengerin lagu agar makin fokus dan
ngenakin mood dalam menulis cerita ini.
****
Meskipun
sugeh, mata Mbokde Gati tak bisa berbohong. Sst! Ada kekosongan di sana, Lur.
Mbokde Gati
punya segalanya, kecuali satu hal, yaitu pengakuan dari seorang juragan ...
duda bernama Warsino.
Juragan Warsino
bukanlah lelaki sembarangan loh, Lur. Ia adalah penguasa perkebunan kelapa yang
hamparannya seolah tak berujung ... juragan kopra terbesar sekecamatan!
Juragan Warsino
sendiri sudah lama menduda, belum beristri lagi.
“Kok betah
amat menduda, De?”
Ya, gak
tahu. Kok tanya pakde.
“Hombreng
kali, De?”
Huss ...!
Dia itu gak begitu. Hanya males menikah lagi, setia sama mendiang istrinya
paling. Sama kayak pakde, kalau mbokde meninggoy, pakde gak nikah lagi, kecuali
... ah, sudahlah!
Next!
****
Bagi Mbokde
Gati, Juragan Warsino adalah definisi lelaki sejati yang anunya ... eh anunya
... pokoknya ‘akar tunggangnya’ kokoh, menghunjam bumi. Begitu khayalan Mbode
Gati, Lur. Anjrit lah! (Kayang) 😄
Ya, gitu
deh, Lur. Mbokde Gati ini dasarnya kesepian. Ya kali ada lelaki atau duda yang
berani mendekatinya. Lelaki mana gak minder bila mau dekat-dekat dengannya, ha?
Gemerincing begitu loh. Mana lelaki zaman
sekarang kebanyakan Mokondo ya, ‘kan?
Sama kayak
Pak RT itu, Mokondo! Mendingan pakdemu ini ya, to? Kalau datang ke rumah janda kidul
kali itu sering bawa buntelan. 😁
Lanjut kita,
Lur!
Di khayalan
Mbokde Gati, Juragan Warsino yang kumisnya sudah kayak ngajak berahi dan kalau sore bersarung itu punya ‘akar
tunggang’ yang kokoh menghunjam!
Mbokde Gati
sering mengkhayal memainkan akar tunggang Juragan Warsino yang terbungkus rapi
di dalam sarung itu.
“Wah parah
sih kalau kata saya mbokde-mbokde satu ini, De.”
Lha piye
meneh to? Namanya juga orang kesepian kok ... ya ke mana-mana pikirannya. Duit
dia punya, apa yang dia gak punya coba, ha? Kalau harta milik Juragan Warsino
sih dia gak pingin, hanya pingin akar tunggang itu kok.
Wes lanjut
lagi kita!
Mbokde Gati ini
sering mencuri waktu di sela kesibukannya menghitung nota untuk sekadar berdiri
di ambang pintu toko. Ia menunggu momen ketika truk-truk besar milik Juragan Warsino
lewat, membawa ribuan kopra kelapa kering yang aromanya tercium hingga ke
terasnya. Bagi Mbokde Gati, aroma kopra itu adalah aroma maskulinitas Juragan Warsino.
“I ... i ...
ini parah ... sih.” 😄
Pokoknya
begitulah, Lur. Mbokde Gati juga memuja sikap tegas Juragan Warsino. Duda
berkumis tebal itu irit bicara, tetapi setiap ucapannya adalah titah yang
dipatuhi.
Mbokde Gati
sering juga berkhayal, andai suatu hari toko sembakonya dan perkebunan kelapa Warsino
bersatu, mereka akan menjadi dinasti yang tak tertandingi seantero negeri.
Cinta Mbokde
Gati bukan lagi sekadar getaran masa puber kedua ... ini adalah ambisi,
pemujaan, dan rasa haus akan perlindungan dari sosok yang ia anggap setara
dengan martabatnya. Duh! Dalem gak sih
visi misi Mbokde Gati dalam menggaet Juragan Warsino, Lur.
Itu tadi
tokoh MBokde Gati, janda sugeh dengan latar belakangnya, memendam cinta kepada Juragan
Warsino.
“Memang dari
awal muncul mbokde yang satu ini kegatelan kok, De. Heran!”
Hus! Gak
boleh gitu. Dimaklumi aja.
Next, Lur!
****
Langit
berwarna jingga tembaga ketika seorang pria paruh baya dengan kemeja safari
rapi turun dari mobil SUV hitam ... jenis mobil yang sering digunakan oleh Juragan
Warsino. Ia memperkenalkan diri sebagai Hadi, orang baru kepercayaan juragan
kopra kampung sebelah, Lur.
Jadi gini,
Mbokde Gati sama Juragan Warsino itu beda desa. Paham, ya?
"Mbakyu
Gati, nggeh?" ucap Hadi dengan suara yang tenang, "Juragan Warsino
mengirim salam. Juragan sedang banyak urusan di kebun kelapa. Jadi, tak sempat
kemari."
Dada Mbokde
Gati berdesir, ada simbol cinta di matanya, hanya dengan mendengar nama itu
disebut dan menitipkan salam.
“Cius?”
Pak Hadi
mengangguk.
"Wonten
menopo nggeh, Pak Hadi? Tumben sekali Pak Juragan Warsino kirim utusan,"
tanya Mbokde Gati, mencoba menekan nada suaranya agar tetap berwibawa meski
jemarinya mulai dingin. Bagaimana gak dingin mendengar kalau orang yang ia puja
menitipkan salam ya, ‘kan?
Hadi
tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat terlatih. "Ngeten, Mbakyu. Juragan
Warsino akan mengadakan hajatan besar pekan depan. Menikahkan anak lelaki
satu-satunya itu.”
“Mahesa?”
ucap Mbokde Gati yang sudah pasti kenal dengan anak satu-satunya Juragan
Warsino.
“Betul
sekali. Maksud ... ya, Mahesa anaknya Juragan Warsino.”
Mbokde Gati
lantas mempersilakan Pak Hadi duduk, “Monggo, monggo, lenggah.”
Pak Hadi
melanjutkan ucapannya, seiring datangnya mobil truk di depan toko sembako.
Mbokde Gati
makin yakin kalau Juragan Warsino akan berbelanja besar di tokonya, Lur. Secara
dia akan ngunduh mantu. Wah! Sudah pasti banyak kebutuhan yang akan dibeli. Ya,
to?
Pak Hadi
langsung mengeluarkan catatan dari Juragan Warsino dari saku bajunya.
“Lha
pangrengrenganipun bade naggap nopo to?” tanya Mbokde Gati.
“Menawi sios
bade nanggap wayang kulit, Mbakyu,” jawab Pak Hadi dengan senyum ramah.
“Oalah. Ya,
sudah pasti ... lha wong Juragan Warsino itu orang berduit,” balas Mbokde Gati.
“Lha matur
tembung menopo mawon Juragan Warsino?” imbuhnya bertanya saat dua orang lelaki
turun dari mobil truk, anak buah Juragan Warsino yang akan usung-usung setelah
memborong belanjaan di tokonya. Begitu pikir Mbokde Gati.
“Juragan
matur tembung ... butuh 150 karung beras
10 kilo kualitas premium, 50 dus minyak goreng, setengah kintal gula pasir,
serta masih banyak lagi. Ini ...” Pak Hadi lantas menyerahkan catatan belanja.
Mbokde Gati
menerimanya lalu membaca daftar belanja. “Rokok 20 cepet, air minum kemasan 50
dus ... Jo, Mukijo!” panggilnya kemudian.
Mukijo,
pelayan toko datang. “Kulo, Mbokde.”
“Ini kamu
siapkan semua yang dibutuhkan Juragan Warsino.”
“Sendiko,
Mbokde,” jawab Mukijo lantas mencari barang-barang sesuai daftar belanja yang
kini ada di tangannya.
Mbokde Gati
lalu duduk dan mengajak ngobrol Pak Hadi, sementara dua lelaki anak buah Juragan Warsino membantu Mukijo
memindahkan barang ke atas truk.
“Lha sinten
dalange?” tanya Mbokde Gati kepada Pak Hadi yang selalu memasang senyum ramah.
“Pakdeeee! Awas
loh nanti kepincut lagi sama Pak Hadi ini, Pakde. lagian Mbokde Gati ‘kan
kegatelan, De!”
Tidak
mungkin! Mbokde Gati itu sudah jatuh cinta berat hanya kepada Juragan Warsino
kok. Gak mungkin melirik Pak Hadi yang polosan tanpa kumis modelan Pak RT itu!
Mbokde Gati
itu sudah kebayang-bayang akar tunggang Juragan Warsino yang menghunjam miliknya,
Lur. Kalau sekelas Pak Hadi kayaknya ... hem ... enggak mungkin punya akar
tunggang, kebanyakan akar serabut. 😄
Next!
“Menawi
mboten salah Dalang Ki Yusuf, Mbakyu,” jawab Pak Hadi.
Selang
obrolan, Mukijo datang. “Ngapunten, Mbokde. Gendise kirang.”
“Wes to
kono, Jo. Jupuk neng gudang. Ojo koyok wong tipis to. Toko gedene sakmene kok,”
jawab Mbokde Gati.
“Sombong
amat!” (Baca pakai suara Mandra).
Ya, bukannya
sombong, tetapi itulah Mbokde Gati, dia tak mau mengecewakan pembeli, apalagi
ini pujaan hatinya loh yang butuh, Lur.
“Nggeh pesti
bakal rame, nggeh?”
Pak Hadi
hanya mengangguk-angguk, senyumnya tak pernah lepas seakan-akan ada mantra
pelet diujung bibirnya.
“Pasti
banyak pedagang yang akan berjualan kalau Juragan Warsino menanggap wayang
kulit. Orang-orang akan berbelanja di tokoku,” batin Mbokde Gati.
Mukijo sudah
mandi keringat berserta dua orang anak buah Juragan Warsino, mengangkut barang
pesanan juragan kopra itu ke atas truk.
“Tadinya
saya pikir kalau juragan menyuruh saya berbelanja di pasar, tetapi Juragan
Warsino menyuruh saya ....” Pak Hadi sengaja menggantung kalimatnya, membuat Mbokde
Gati condong ke depan.
"...
Juragan Warsino bilang, 'Hanya ambil di tempat Mbakyu Gati. Saya tidak percaya
timbangan orang lain. Hanya dia yang tahu cara menjaga kualitas.' Begitu
pesannya, Mbakyu.”
“Hah? Begitu
katanya?” tanya Mbokde Gati semringah.
“Leres,
Mbakyu,” jawab Pak Hadi.
Mendengar
namanya disebut oleh Juragan Warsino seolah ada kedekatan secara personal
membuat pertahanan logika Mbokde Gati runtuh seketika oleh bunga-bunga cinta
yang beterbangan dari dadanya , Lur.
Kalimat itu
adalah pujian paling indah yang pernah Mbokde Gati dengar seumur hidupnya.
Dalam benaknya, “Ini bukan sekadar pesanan barang, melainkan sebuah pesan cinta
yang tersamar dalam transaksi dagang.” Anjay! (Salto).😁
“Dih, mentok
amat ... segitunya Mbokde Gati ini, De?”
Pakde loh
mikir narasi yang bagus apa. He he he.
Ya,
begitulah. Namanya orang sudah gelap mata karena cinta. Ucapan biasa terdengar
pujian. Ya, to?
Mari lanjut
lagi, Lur!
"Tentu,
tentu. Toko ini selalu menjaga kualitas," sahut Mbokde Gati cepat,
wajahnya merona merah jambu.
“Ini juragan
titip uang muka lima juta rupiah, tanda jadi ... sisanya juragan sendiri yang
akan mengantarkannya langsung ke rumah Mbakyu dua hari seusai hajatan.”
“Ha! Begitu
katanya!” Syok Mbokde Gati mendengarnya.
“Leres,
Mbakyu.”
“Mau datang
ke rumah!” ulangnya.
“Betul
sekali, Mbakyu.”
Tubuh Mbokde
Gati langsung ambruk karena lututnya lemas.
Bruk!
Mukijo yang
tahu langsung berlari, berusaha memberi bantuan.
“Jo,
Mukijo,” ucap Mbokde Gati yang terbaring sambil tersenyum, jiwanya mengambang di awang-awang.
“Mbokde
mboten nopo-nopo to?” Panik Mukijo lalu membaringkan kepala junjungannya itu ke
pangkuannya.
“Juragan
Warsino mau datang ke rumah, Jo. he he he.”
Mukijo
lantas mengangkat kepala Mbokde Gati dan membantingnya ke lantai.
Dak!
“Matane!”
seru Mbokde Gati sambil terus tersenyum, bunga-bunga cinta terus beterbangan
dari matanya.
“Oh, Yayang
Mbeb,” ucapnya lirih sambil mengembangkan senyum.
****
Singkat
cerita semua barang-barang kebutuhan sudah diangkut di atas truk.
“Menawi
sampun cekap, kulo pamit rumiyin, Mbakyu,” ucap Pak Hadi sambil menjabat tangan
Mbokde Gati.
“Titip salam
kagem Juragan Warsino, nggeh,” balas Mbokde Gati yang kini wajahnya lebih
cerah, semringah.
Pak Hadi
mengangguk lalu menuju mobil SUV hitam milik Juragan Warsino.
Mobil truk
melaju perlahan diiring mobil yang dikendarai oleh Pak Hadi meninggalkan toko
sembako Mbokde Gati.
“Niki
catetanipun, Mbokde,” kata Mukijo yang mandi keringat.
Mbokde Gati
langsung menerima dan melangkah masuk.
****
Di dalam
toko, Mbokde Gati lantas menghitung semua berapa total belanja dari pujaan
hatinya itu.
“Lima puluh
lima juta, DP lima juta.” Lalu menoleh ke arah rak dagangan yang kini nyaris
kosong sebab isinya sudah diborong habis oleh Yayang Kumis, Warsino!
****
Singkat
cerita ....
Acara
ngunduh mantu Juragan Warsino berjalan lancar. Pagelaran wayang kulit semarak
berlangsung semalam suntuk.
Mbokde Gati
sendiri datang kok Lur di hajatan besar itu Namun, tidak pingsan sewaktu
bersalam dengan Yayang Kumisnya itu.
Pingin
sekali Mbokde Gati mengusir dua mempelai yang berbahagia di pelaminan itu,
menggantikannya dengan Yayang Kumis.
“A ... elah!
Bilangin Mbokde Gati napa, Pakde. Ntar kalau cintanya gak kesampaian baru tau
rasa!”
Suka-suka
dia to, Lur. Orang kaya mah bebas! Bebas ngayal, bebas mau apa saja, apalagi
ini urusan cinta! Kayak yang gak pernah jatuh cinta saja kamu!
“Paling juga
isi amplopnya selembar, De.”
Kata siapa,
ha? Mbokde Gati menyelipkan lima lembar uang, sekaligus menyelipkan selembar
cintanya ke dalam amplop!
“Bodo!
suka-suka Mbokde Gati, ah! lanjut saja, De!”
Next, Lur!
****
Dua hari
setelah hajatan Juragan Warsino ....
Sore yang
dijanjikan menjadi waktu yang paling lambat dalam hidup Mbokde Gati. Ia mandi
dengan kembang setaman, mengenakan kebaya sutra terbaiknya, dan duduk di ruang
tamu dengan jantung yang bertalu-talu. Khayalannya tetap ... isi sarung Juragan
Warsino yang berisi akar tunggang!
Tiga puluh
menit berlalu ....
Mbokde Gati
mulai gelisah, menuju pintu lalu masuk. Duduk sebentar lalu keluar lagi, Lur.
“Duh, endi
to ... kok gung teko.”
Azan magrib
terdengar ....
“Allahu
Akbar, Allahu Akbar!”
Mbokde Gati
kian gelisah menunggu kedatangan sosok Arjuna berkumis.
“Kok gurung
teko to, ih!” Mulai kesal dia, Lur! 😄
Azan Isya
berkumandang ....
“Allahu
Akbar, Allahu Akbar!”
Akan tetapi,
deru mobil Juragan Warsino tak kunjung terdengar jua, Lur.
“Ih, sebel!”
Mbokde Gati langsung masuk ke kamarnya.
****
Satu
minggu berlalu ....
Mbokde Gati
mulai gelisah, tetapi ia menolak untuk berburuk sangka. “Mungkin dia sedang
sibuk dengan urusannya,” batinnya menghibur diri. Namun, di dalam hatinya,
sebuah retakan kecil mulai muncul. Ia merasa malu jika harus menagih.
“Seorang
janda kaya menagih utang pada juragan terpandang? Itu akan terlihat aku sengaja
mengejar-ngejarnya. Dih! Emang aku janda apaan!” Gengsinya terlalu tinggi, Lur.
Kalau jadi
kamu bagaimana? Tembak langsung apa terus-terusan memendam rasa hingga ditembak
duluan, Lur?
Next!
Mbokde Gati
terus gelisah di atas tempat tidur.
“Yo, gak
mungkin Juragan Warsino lali karo utange.” Namun, selain itu ... Mbokde Gati
mengharap sebuah pertemuan, perkara uang itu nomor dua, Lur. Syukur-syukur
Juragan Warsino mau berlama-lama ngobrol dan berakhir di kamar ... bincang
ranjang gitu, Lur!😁
Biarlah!
Urusan cinta orang tua, kamu gak usah kepo!
“Ya, ampun,
Mbokde Gati. Nggilani! Bilangin napa sih, De! Lagian di kamar mau apa coba, ha!
Pakde sih ngajarin yang enggak-enggak!”
Hanya
bincang ranjang kok. Pakde loh sering begitu. Bincang-bincang dulu kita lalu
....
Ah,
sudahlah!
Next!
****
Hingga
pada suatu pagi ....
“Jo,
Mukijo!”
Mukijo yang
sedang menyusun barang tergopoh-gooh menghampiri Mbokde Gati. “Kulo, Mbokde.”
“Nek enek
wong takon utowo nggoleki kon ngenteni sedelo, yo.”
“Bade tindak
pundi, Mbokde?”
“Aku arep
neng kantor deso, ngurus memperpanjang surat izin usaha.”
“Sendiko,
Mbokde.”
“Roti-roti
kae ojo mbok pangani loh, yo! Rugi ngko aku!”
“Lha nggeh
mboten wantun to kulo, Mbokde.”
“Yo wes
ngono ae.”
“Nggeh,
Mbokde.”
Metitil
tenan Mbokde Gati ki jan! Layak sugeh, Lur.😁
Eh, Lur.
Lapo yo wong sugeh roto-roto metitil?
****
Tiba di
kantor desa.
Mbokde Gati
melihat Juragan Warsino sedang duduk di beranda bersama Pak Kades.
Juragan
Warsino terlihat gagah dengan kemeja batik sutranya, memegang cangkir kopi
dengan jemari yang kokoh, peci hitam menghias kepalanya.
Melihat itu
buru-buru Mbokde Gati bersembunyi di balik batang kemboja.
“Ya, Allah
Gusti. Ayang Mbeb kok tambah gagah lan gianteng tenan to.” Mata Mbokde Gati
berkedip-kedip, senyumnya merekah, menyungging bibir yang sudah dioles gincu
merah.
“Loh,
Mbakyu! Kok di situ!” teriak Pak Kades.
“Aduh!
Konangan,” batin Mbokde Gati.
Lagian
sembunyi di bawah pohon kemboja, ya ketahuan to Mbokde, Mbokde. 😁
“Langsung
saja ke sini kalau ada perlu!”
Mbokde Gati
mendekat, mencoba mengatur napasnya yang sesak. "Selamat pagi, Pak Kades,”
ucapnya setelah sampai di teras kantor desa.
“Ada yang
bisa saya bantu, Mbakyu?” tanya Pak Kades.
“Anu, Pak.
Saya mau anu ... eh, anu. Mau ngurus izin menikah,” jawab Mbokde Gati kikuk
sebab ada Juragan Warsino yang senyum-senyum melihat tingkah Mbokde Gati,
tingkahnya seperti orang yang kebelet pipis, Lur.
“Menikah?
Mbakyu mau menikah lagi?”
“Eh ... anu!
Maksud kulo sanes menikah, ning memperpanjang surat izin usaha, Pak.”
“Oalah. Mana
surat yang lama?”
“Enten. Niki,
Pak.” Mbokde Gati mengambil surat yang sudah kedaluwarsa masa temponya.
“Niki, Pak
Kades.”
“Kalau
begitu Mbakyu tunggu di sini sebentar, nggeh.”
“Injih, Pak
Kades.”
Pak Kades
langsung masuk ke dalam.
“Juragan,”
sapa Mbokde Gati mulai belingsatan, suaranya dibuat semanis mungkin.
“Nagih ora
yo? Ora ditagih kok bondo, ditagih kok piye ngono?” batinnya bimbang.
Juragan
Warsino mendongak, matanya yang tenang menatap Mbokde Gati.
“Lebih baik
aku ngomong wae lah.”
"Anu
.., Juragan. Saya hanya ingin bertanya, apakah hidangan di hajatan kemarin
sudah pas? Eh, anu ... maksud saya ...
saya khawatir ada yang kurang dari kiriman beras kemarin," ucap Mbokde
Gati, mencoba memancing percakapan tentang ‘janji dua hari usai hajatan’ itu
... perkara hutang di tokonya, Lur.
Alis Juragan
Warsino bertaut. Ia meletakkan cangkir kopinya. "Beras? Beras nopo? Saya
tidak pernah pesan beras?”
Darah seolah
berhenti mengalir dari wajah Mbokde Gati. Bibirnya yang berlumur berlipstik
merah bergetar. "Nanging, Juragan. Pak Hadi, orang kepercayaan Juragan
...?”
“Pak Hadi?
Pak Hadi pundi nggeh, Mbakyu?” Juragan Warsino kian tak mengerti arah
pembicaraan, terlebih masalah beras.
“Loh! Pak
Hadi orang kepercayaan Juragan niko loh. Dia datang ke toko seminggu lalu. Dia
bilang Juragan hanya percaya pada saya untuk menyuplai acara hajatan kemarin.”
Juragan
Warsino terdiam sejenak, lalu helaan napas berat keluar dari dadanya. "Ah.
Mbakyu, saya tidak punya asisten bernama Hadi.”
“Ha!”
Melongo Mbokde Gati, bukan karena melihat kumis Juragan Warsino yang kasar
seperti akar serabut, tetapi tentang nama Pak Hadi.
“Lha matur
tembung saking Juragan. Katanya Juragan yang menyuruh ambil beras dan yang
lainnya,” balas Mbokde Gati.
“Masalah
beras dan kebutuhan hajatan kemarin, saya sudah pesan ke pasar jauh-jauh hari,
Mbakyu.”
“Ha!” jelas
Mbokde Gati tercekat kini.
“Lha Pak
Hadi matur ....”
“Mbakyu,
saya tidak pernah menyuruh orang atau siapa pun untuk mengambil barang ke toko
Mbakyu,” potong Juragan Warsino.
“Tapi,
Juragan ....”
Juragan
Warsino menggeleng. “Justru saya ke sini untuk melaporkan pada Pak Kades bahwa
ada laporan modus penipuan yang mencatut nama saya di desa tetangga, Mbakyu."
Dunia Mbokde
Gati seolah terbalik. Suara di sekitarnya mendadak senyap, menyisakan denging
panjang di telinganya.
Rasa malu
yang luar biasa menghantamnya lebih telak daripada kehilangan uang puluhan juta.
Di hadapan Juragan
Warsino yang ia puja, Mbokde Gati baru saja mengakui betapa mudahnya ia
dikelabui oleh kata-kata manis yang membawa nama lelaki pujaannya.
“Kata Pak
Hadi ... Juragan bade rawuh ke rumah dan menyelesaikan sisa utang ....”
“Tidak,
Mbakyu. Itu bukan perintah saya, lagipula kenapa saya harus datang untuk
menyelesaikan utang. Saya ini paling malas kalau punya tanggungan, Mbakyu.
Prinsip saya ... ada barang, ada uang.”
Mbokde Gati
menatap lantai keramik kantor desa, tak berani mengangkat muka. Ia merasa
telanjangi, ia menyadari bahwa si penipu yang mengaku bernama Hadi telah
membaca rahasia paling gelap di hatinya ... penipu itu tahu kalau ia sangat
mendambakan perhatian Juragan Warsino.
"Mbakyu?
Mbakyu, tidak apa-apa?" Suara Juragan Warsino terdengar berat, penuh rasa
iba, dan itu justru terasa seperti sembilu bagi Mbokde Gati. Ia tidak butuh
dikasihani, ia hanya ingin dicintai, Lur.
“SEDIH LOH
SAYA BACANYA, PAKDE.”😭
"Saya...
saya permisi, Juragan" ucap Mbokde Gati dengan mata berkaca-kaca.
Mbokde Gati
berjalan keluar dengan langkah gontai, Lur.
Kekayaan
yang Mboke Gati banggakan, emas yang melingkar di tangannya, dan toko besarnya
kini terasa tak berarti, Lur. Sekali lagi ia hanya ingin dicintai oleh Juragan
Warsino ... itu saja. Namun, semua kandas oleh sikap Juragan Warsino.
Mbokde Gati
telah tertipu oleh fantasinya sendiri. Si penipu tak hanya membawa lari truk
bermuatan sembakonya, tetapi juga membawa lari martabatnya sebagai janda
terhormat yang paling kaya di desa itu, Lur.
Di bawah
pohon kemboja di depan kantor desa, Mbokde Gati berhenti sejenak, menatap
langit, ada yang menetes dari ujung matanya.
Tubuh Mbokde
Gati luruh memeluk pohon kemboja. Ia telah tertipu puluhan juta, tertipu
cintanya yang kelewat besar hingga buta akan kenyataan.
“Hu hu hu.” Menangis
sambil memeluk pohon kemboja ... terasa sakit hati Mbokde Gati.
Penipu itu
telah menelan habis dagangan Mbokde Gati dan yang paling menyakitkan, harga
dirinya di depan Juragan Warsino.
“Mbakyu?”
Mbokde Gati
buru-buru mengusap air matanya saat Juragan Warsino tak ia sadari sudah berdiri
di hadapannya.
“Eh, Juragan.”
Mbokde Gati segera beranjak. Pipinya kembali merah jambu saat Juragan Warsino
tersenyum kepadanya.
“Saya turut prihatin
atas apa yang menimpa Mbakyu.”
“O em ji.
Inikah tanda-tanda kalau Juragan Warsino sebenarnya juga mencintaiku? Prihatin
katanya? Itu hanya kata permulaan,” batin Mbokde Gati.
“Mbakyu
pulang dengan siapa?” imbuh Juragan Warsino saat Mbokde Gati hanya
senyum-senyum ... jiwanya mulai ngawang, Lur. 😁
“Saya
sendiri, Juragan,” jawab Mbkde Gati.
“Sendiri?”
tanya Jragan Warsino.
“Yoi, Juragan,”
balas Mbokde Gati.
“Yess! Dia
bakal mengantarku pulang dan .... Ah!” Mbokde gati mulai mengkhayal kalau hari
ini ia akan mendapatkan akar tunggang Juragan Warsino.
“Tidak
diantar sopir?”
Mbokde tidak
menjawab, tetapi malah senyum-senyum kemayu lalu menggeleng.
Tak lama
kemudian muncul perempuan muda, rambut tergerai, wajahnya aduhai ... cantik
sekali, Lur. “Kangmas, ayo! Aku sudah selesai mengisi formulir N1. Sekarang
kita ke KUA untuk mengantar berkasnya.”
“Mbakyu, saya
permisi dulu,” kata Juragan Warsino lalu berjalan digandeng oleh perempuan yang
usianya lebih muda dari Mbokde Gati.
MBokde Gati
hanya berdiri terpaku, napasnya mulai tersengal-sengal lalu tubuhnya ambruk.
Bruk!
Langit bak
runtuh menimpa dirinya, beberapa bunga kemboja gugur ke bawah, seolah tanda
taburan bunga duka, Lur.
Di bawah
pohon kemboja Mbokde Gati nangis kejer.😭
Hati Mbokde
Gati remuk ... terlalu remuk malah
setelah mengetahui kalau Juragan Warsino akan menancapkan akar tunggangnya ke perempuan
itu. END.
Bagaimana,
ha. Cinta bisa membutakan mata ya, to? Sampai jumpa di One Shot Mbokde Gati
Series.
Semoga
terhibur nggeh, Dulur. Jangan lupa tinggalkan jejak.
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment